Skip to content

Mencari Kebahagiaan

November 20, 2013

Apakah Kebahagiaan Semu Yang Kita Cari?


Jika ditanya, apa tujuan hidup anda? Tentu semuanya menjawab mencari kebahagiaan dan kesenangan hidup. Mulai dari seorang Ibu yang bahagia dengan kesuksesan mendidik anak, sang bapak yang sukses dengan karir dan jabatan, seorang caleg yang bahagia dengan terpilih, bahkan seorang Wariapun bahagia dengan sekedar nongkrong-nongkrong “eksis”. Akan tetapi apakah yang dirasakan benar-benar kebahagiaan? Apakah kebahagiaan semu saja? Kalau memang bahagia, apakah Kebahagiaan didunia saja? Tidak diakhirat yang kekal.

Kita ambil contoh, misalnya bagaimana seorang artis misalnya artis korea, yang terlihat bahagia dan semua puncak kebahagiaan dunia ditangannya. Terkenal, dihormati, kaya, makanan enak, rumah besar dan fasiltas lengkap, wajah yang rupawan dan pasangan hidup yang menarik. Akan tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa artis korea atau artis secara umum hidupnya sebenarnya di bahwa tekanan. Harus selalu tampil menarik untuk mencari pujian dan ridha manusia, kehidupan selalu diekspos, kejar tayang, mengejar pekerjaan dan persaingan tidak sehat dan berat di dunia artis. Jadilah pelarian mereka ke narkoba, kawin-cerai dan berbagai skandal kehidupan. Atau yang lebih parah kebahagiaan semu para waria, yang sudah jelas bagi orang yang di hatinya masih ada sedikit nurani, maka mereka tidak setuju dengan mencari kebahagiaan dengan menjadi waria.

Dan perlu kita ingat bahwa Kebahagiaan dunia semu itu menipu dan sering kali melalaikan dari akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”  (QS. Luqmaan: 33)

Allah Ta’ala juga berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. Al Hadid: 20)

Istidraj: Kebahagiaan yang lebih semu lagi

Ternyata ada yang harus kita waspadai lagi. Yaitu ia merasa bahagia di dunia padahal itu adalah hukuman baginya dari Allah Ta’ala, karena ia bahagia tidak diatas landasan Agama Islam yang benar. Allah biarkan ia bahagia sementara di dunia, Allah biarkan ia merasa akan selamat dari ancaman Allah di akhirat kelak, Allah tidak peduli kepadanya. Itulah istidraj sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.”

Mengenai ayat,

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf: 99)

Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan, “Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah”

Kita ambil contoh komentar seorang ibu,

saya sudah bahagia sekarang, anak-anak saya semuanya sudah jadi, sudah berhasil semua, saya bangga, anak pertama wakil direktur di bank, anak kedua saya jadi koordinatur umum di urusan pajak bea cukai, anak ketiga saya menjadi hakim agung di kabupaten”

Bisa jadi ini adalah istidraj, jika kebahagiaanya hanya bersandar sesuai dengan komentar diatas tanpa landasan agama, walaupun jika kita tanya kepada kebanyakan manusia, maka mereka kebanyakan sepakat bahwa ibu ini memang bahagia sekarang. Akan tetapi, Jika mengikuti kebanyakan hawa nafsu manusia di muka bumi, maka kita akan kita akan tersesat. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menafsirkan, “Allah berfirman kepada nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memberi peringatan dari menaati/mengikuti mayoritas manusia, karena kebanyakan mereka telah berpaling dari agama, amal dan ilmu mereka. agama mereka rusak, amal mereka mengikuti hawa nafsu dan ilmu mereka tidak diterapkan dan tidak bisa mencapai jalan yang benar”

Sering-sering muhasabah antara nikmat dan istidraj

Dan sudah sepatutnya kita berilmu, yaitu bagaimana membedakan antara nikmat dan istidraj dengan sering-sering bermuhasabah. Ibnul Qayyimrahimahullah berkata, “Adapun (kemampuan) membedakan antara nikmat dan fitnah, yaitu untuk membedakan antara kenikmatan yang Allah anugerahkan kepadanya -berupa kebaikan-Nya dan kasih-sayang-Nya, yang dengannya ia bisa meraih kebahagiaan abadi- dengan kenikmatan yang merupakan istidraj dari Allah. Betapa banyak orang yang terfitnah dengan diberi kenikmatan (dibiarkan tenggelam dalam kenikmatan, sehingga semakin jauh tersesat dari jalan Allah, Pen), sedangkan ia tidak menyadari hal itu. Mereka terfitnah dengan pujian orang-orang bodoh, tertipu dengan kebutuhannya yang selalu terpenuhi dan aibnya yang selalu ditutup oleh Allah”

Standar bahagia di dunia seperti orang kafir?

Jika ada komentar, “saya hidup bahagia sekarang, punya istri yang cantik, anak yang lucu dan pintar, punya rumah yang cukup besar karir saya di kantor terus naik dan bisnis lancar terus”. Maka, orang kafir juga bahagianya dengan komentar di atas, oleh karena itu tidak sepantasnya seorang muslim bahagia HANYA dengan patokan kebahagiaan seperti komentar di atas. Mengenai ayat,

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” QS. Ali Imran: 196-197)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, ”Janganlah kalian melihat berbagai kenikmatan, kebahagian dan kemudahan orang-orang kafir. Tidak berapa lama lagi, semuanya akan lenyap dari tangan mereka. Nantinya, mereka akan terjerat oleh amalan-amalan buruk mereka. Kami memberikan kemudahan mereka di sana, sebagai istidraj semata. Semua yang mereka miliki hanyalah (kesenangan sementara). Kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya“.

Dan jika kita seperti orang kafir hanya ingin bahagia di dunia saja, maka terkadang Allah Ta’ala memberikannya sekedar kehendak Allah, Allah Ta’alaberfirman,

مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاء لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُوماً مَّدْحُوراً

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu sesuai dengan apa yang kami kehendakibagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS. Al-Isra’: 17)

Apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya?

Kebahagiaan adalah bahagia jika melaksanakan perintah Allah dan merasa sedih jika melakukan kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)

Jadi jika kita berat melaksanakan shalat, puasa, atau bahkan berat melaksanakan amalan-amalan sunnah, maka itu adalah tanda tidak bahagia. Kemudian jika kita melakukan maksiat tetapi kita tenang-tenang saja, atau yang lebih parah tidak tahu bahwa hal yang kita lakukakan adalah maksiat dan dilarang oleh agama. Bandingkan dengan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan mengenai ciri kebahagiaan: “jika diberi [kenikmatan] maka ia bersyukur, jika diuji [dengan ditimpa musibah] ia bersabar dan jika melakukan dosa ia beristigfar [bertaubat]. Tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan.”

Dan mengenai bahagia yang sesungguhnya jelas letaknya adalah di hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.

Oleh karena itu carilah kebahagiaan hakiki tersebut, sebagaimana kita mencari kesembuhan jika badan kita sakit, jika badan kita sakit maka kita akan menempuh berbagai penjuru dunia untuk mencari kesembuan. Jawabannya adalah ilmu, doa dan bersungguh-sungguh. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”(QS. Al-Ankabut: 69)

Contoh kebahagiaan dunia-akhirat

Inilah contoh kebahagiaan para ulama salaf, mereka berkata,

لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ

Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”

Contoh ulama yang mencerminkan kebahagiaan dunia-akhirat adalah syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Muridnya yaitu Ibnul Qayyim menceritakan kebahagiaan gurunya, ”Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.

Bahkan ketika beliau di penjara beliau Ibnu Taimiyah berkata, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”

Beliau juga berkata, “Orang yang dipenjara adalah orang yang hatinya dibelenggu dari Rabb-nya Ta’ala”

Beliau juga berkata, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surgaku dan tamannya ada di hatiku, jika, ke mana aku pergi ia selalu bersamaku, jika mereka memenjarakanku maka penjara adalah khalwat bagiku, jika mereka membunuhku maka kematianku adalah syahid, jika mereka mengusirku maka kepergianku adalah rekreasi.”

Catatan Kaki

1 HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 561

2 Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi, cet.II, 1417 H

3 Taisir Karimir Rahmah hal. 248, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet. I, 1424 H

4 Madarijus salikin 1/189, Darul Kutub Al-‘Arabi, beirut, cet. III, 1416 H, Syamilah

5 Tafsir Ibnu Katsir 2/192, Dar Thayyibah, cet. II, 1420H, Syamilah

6 HR. Bukhari no. 6308

7 Matan Qowa’idul Arba’

8 HR. Bukhari dan Muslim

9 Rawai’ut Tafsir Ibnu Rajab 2/134, Darul ‘Ashimah, cet.I, 1422 H, Syamilah

10 Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Koiro, cet. III, Syamilah

11 Idem

12 Idem

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslim.or.id

Keutamaan Surat Al-Ashr

November 20, 2013

Sekilas Keutamaan Surat Al-Ashr


Pada kehidupan dunia yang fana ini, tidak ada seorangpun yang menginginkan dirinya merugi. Akan tetapi, kebanyakan manusia lalai dari hal-hal yang dapat mengantarkannya menuju keberuntungan dan menjauhkannya dari kerugian, serta memberikan kebahagiaan yang hakiki dan menghilangkan kesedihan dalam mengarungi kehidupan yang penuh ujian dan cobaan. Allah telah menggambarkan kerugian yang akan dialami bani Adam kecuali bagi mereka yang bersungguh-sungguh menggapai, mengamalkan, dan mempertahankan hal-hal tersebut agar terus menyelimuti serta menyifati dirinya sampai ajal menjemputnya. Sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya),

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. al-Ashr [103]: 1-3)

Demi masa sesungguhnya semua manusia dalam keadaan merugi baik orang miskin maupun kaya, orang punya pangkat maupun tidak, orang tua maupun muda. Semuanya dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang mempunyai kriteria sebagai berikut:

Pertama: orang-orang yang beriman

Syaikh Abu Bakar al-Jazairi dalam tafsirnya berkata: “Orang-orang yang beriman dikecualikan Allah dari kerugian. Mereka menjadi orang-orang yang beruntung dan tidak tergolong orang-orang yang merugi. Yang dimaksud beriman di sini adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta beriman kepada apa yang didatangkan kepada Rasulullah berupa petunjuk dan agama yang haq (Islam). Dan perlu diperhatikan bahwa iman kepada Allah tidak hanya sekedar ucapan semata, angan-angan yang terlintas semata, atau apa yang terbetik dalam hati seseorang, akan tetapi yang dimaksud dengan iman adalah pengakuan dengan dalam hati, mengucapkannya dengan lisan, dan mengamalkannya dengan anggota badan. Syaikh Utsaimin dalam kitab Majmu’ Fatawa berkata: “Iman menurut Ahlus Sunnah adalah pengakuan dalam hati, mengucapkannya dengan lisan, dan mengamalkannya dengan anggota badan. Makaorang yang beriman kepada Allah apabila meyakini dalam hatinya hal-hal yang berkaitan dengan Allah, kemudian mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan dari tuntutan-tuntunan bagi hamba yang mengaku dan mengucapkan iman tersebut. Dan perlu kita perhatikan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Al-Hafidz Abu Bakr Al-Ismaily dalam kitabnya I’tiqad Aimati Ahlil Hadits mengatakan: “Iman itu bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan kemaksiatan. Barangsiapa yang melakukan ketaatan niscaya akan bertambah imannya. Semoga kita menjadi orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar yang berlandaskan pada ilmu yang haq, berpijak dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk menambah iman kita dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada-Nya.”

Kedua: orang-orang yang beramal shalih

Beliau Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jazairi dalam Tafsirnya mengatakan: “Adapun yang dimaksud dengan amalan shalih adalah amalan-amalan shalih yang wajib dan yang sunnah.” Akan tetapi perlu kita perhatikan bahwa, amalan yang kita amalkan belum tentu diterima Allah Karena amalan baik yang kita amalkan akan menjadi amalan yang shalih yang diterima Allah kalau memenuhi syarat-syarat diterimanya amal, Maka sebagaimana yang dikatakan Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu bahwa syarat diterimanya amal di sisi Allah ada tiga:

  1. Beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya
    Alhamdulillah Allah telah memberikan nikmat yang agung dengan menjadikan kita orang Islam dan beriman kepada Allah sehingga terpenuhi syarat yang pertama dari diterimanya suatu amalan. Adapun orang-orang non Islam seperti orang Yahudi, Nasrani dan Majusi walaupun mereka berbuat kebaikan akan tetapi tidak akan diterima amalan mereka di sisi Allah.
  1. Ikhlas
    sebagaimana firman Allah (yang artinya) : “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya” (QS. az- Zumar [39]: 22)
  1. Sesuai dengan yang di datangkan Rasulullah,
    sebagaimana firman Allah (yang artinya) : “… apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka ; terimalah, dan apa yarvg dilarangnya bagirnu, maka tihggalkanlah. dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya” (QS. al-Hasyr [56]:7)

Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa berusaha menghadirkan niat yang ikhlas dan mengharap wajah Allah dan mengikuti amalan Rasulullah agar amalan kita di terima di sisi Allah, Walaupun kadang hati ini terasa berat untuk bisa mengamalkan amalan yang sholih agar diterima Allah dengan memenuhi tiga syarat yang termaktub. Akan tetapi bila kita laksanakan dengan terus-menerus dan bersabar, insya’ Allah hal yang berat akan menjadi ringan. Dan sesungguhnya dalam melakukan ketaatan kepada Allah terdapat kelezatan dan kesenangan yang tidak dapat diketahui seorangpun melainkan orang yang mempraktekkan dan mengamalkannya. Hanya kepada Allah kita memohon agar dimudahkan dalam melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Allah dan mendapatkan kelezatan serta kebahagiaan di dalamnya.

Ketiga: saling menasehati supaya mentaati kebenaran

Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi berkata: “Maksudnya adalah dengan meyakini suatu kebenaran, mendakwahkannya dan mengamalkannya. Dan yang demikian itu bisa terwujud dengan mengikuti al-Qur’an dan hadits Rasulullah, (dengan pemahaman yang dipahami generasi salafus shalih, pent).”

Menasehati orang lain merupakan ibadah yang banyak keutamaannya: Akan tetapi hal ini sangat membutuhkan keikhlasan ilmu, kelemah-lembutan dan kesabaran. Karena berdakwah denganmenunjukkan jalan keselamatan dan kebenaran penuh rintangan. Walaupun demikian, tidak akan terasa sulit dan berat bagi orang yang berdakwah di jalan Allah sebagaimana dalam firman-Nya (yang aritnya) :

“Siapakah yang lebih. baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allahmengerjakan amal yang sholih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri” (QS. Fushshilat: 33) .

Hasan al-Bashri telah membaca ayat yang mulia tersebut, yang artinya (Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah) kemudian beliau mengatakan bahwa seorang da’i itu adalah kekasih Allah, wali Allah, manusia pilihan Allah dan penduduk bumi yang paling dicintai Allah. Kemudian Rasulullah juga mengabarkan tentang keutamaan orang yang berdakwah dengan menunjukkan kebenaran, beliau bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan maka baginya (pahala) sebagaimana orang yang melakukannya” (HR. Muslim). Dan orang yang mengorbankan dirinya untuk berdakwah dengan ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti metode Rasulullah dalam berdakwah) merupakan orang-orang yang bersungguh-sungguh mengikuti jejak Rasulullah karena beliau sangat gigih mendakwahkan agama yang haq ini, sebagaimana firman Allah (yang artinya) :

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orangorang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah. dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”” (QS. Yusuf[12]: 108).

Keempat: saling menasehati untuk menetapi kesabaran

Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, dalamTafsirnya mengatakan: “Maksudnya saling menasehati sebagian mereka sebagian yang lain, dengan kebenaran: Supaya kebenaran itu diyakini (dengan hati), disampaikan (dengan lisan), dan diamalkan (dengan anggota badan) serta saling menasehati untuk menetapi kesabaran atas yang demikian itu. Sampai salah satu di antara mereka meninggal sedangkan ia meyakini suatu kebenaran, mengucapkannya dan mengamalkan apa yang datang dari kebenaran itu”.

Saudaraku, kesabaran merupakan perkara yang sangat penting. Kita semua membutuhkannya agar dapat mengarungi kehidupan dunia yang tidak lepas dari ujian. Semoga Allah menjaga jiwa kita untuk tetap istiqamah dalam menuntut ilmu syar’i yang menjadi pelita hati untuk semua penduduk bumi, baik di dunia dan di akhirat nanti. Dan semoga Allah senantiasa memberikan keistiqamahan untuk beramal kebaikan serta memberi keteguhan dalam mendakwahkannya. Akhirnya kepada engkaulah ya Allah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, penuhilah hati kami dengan kesabaran agar dapat mengarungi ujian dan rintangan dalam mendakwahkan kebenaran sesuai dengan kemampuan.

Marilah kita memperhatikan hal-hal yang bisa melepaskan diri kita dari kerugian di dunia dan akhirat sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ashr serta bersungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita mulia tersebut karena para ulama dalam menempuh jalan ilmu, amal, dan dakwah mereka bersabar dan bersungguh-sungguh di atas. Menuntut ilmu syar’i memiliki kenikmatan tersendiri yang dapat membuat, orang lupa dari kenikmatan dunia. wahai saudaraku sekalian perhatikanlah perjalanan hidup ulama salaf yang rela menanggung penderitaan untuk meraih ilmu.

Syaikh Muhammad bin Thahir al Maqdisi berkata: “Saya pernah mengalami kencing berdarah dua kali ketika belajar hadits, sekali di Baghdad dan sekali di Makkah. Itu karena saya berjalan tanpa alas kaki di bawah terik matahari yang menyengat, sehingga saya mengalami kencing berdarah tersebut dan saya tidak pernah naik kendaraan ketika belajar hadits kecuali sekali saja, sedangkan saya membawa sepuluh kitab di atas pundak”. Inilah di antara keadaan ulama salaf yang teguh dan gigih dalam menempuh jalan kemuliaan dengan menuntut ilmu. Semoga Allah menjadikan kita orang yang dapat mengambil ibrah dari jerih payah ulama salaf dalam menuntut ilmu dan mewariskan kegigihannya pada jiwa kita semua.

Inilah sekelumit perjalanan hidup ulama salaf yang bersemangat dalam menempuh jalan ilmu, amal dan dakwah serta bersabar di atasnya sehingga menjauhkan mereka dari kerugian dan membawa menuju kemuliaan dunia dan akhirat. Hanya ini yang bisa kami sampaikan semoga khutbah ini bermanfaat bagi kami khususnya dan jama’ah umumnya. Serta dapat menjadikan orang yang lalai segera menyadari kesalahan dan mencari ampunan Rabb-nya. Dan menjadikan kita mampu memiliki sifat-sifat yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya dalan surat Al-Ashr, karena hal inilah yang dapat menghindarkan kita dari kerugian di dunia dan akhirat. Aamiin.

Penulis: Ustadz Abu Hammam Kiryani, BA.
Artikel Muslim.Or.Id

Tiga Amalan Harian Muslim Sejati

November 19, 2013

Tiga Amalan Harian Muslim Sejati

Saudaraku, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim… Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri.

Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, amalan yang dicintai-Nya, amalan yang akan mendekatkan dirimu kepada-Nya, amalan yang akan menentramkan hatimu dimanapun kau berada, amalan yang akan menjadi tabunganmu menyambut hari esok setelah ditiupnya sangkakala dan hancurnya dunia beserta segenap isinya…

Semoga Allah mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih di dalam surga-Nya…, Allahumma amin.

[1] Perbanyaklah berdzikir kepada-Nya Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya…” (QS. al-Ahzab: 41). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. al-Munafiqun: 9). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul seraya mengingat Allah, melainkan pasti malaikat akan menaungi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

[2] Tetaplah berdoa kepada-Nya Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rabb kalian berfirman; Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri sehingga tidak mau beribadah (berdoa) kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada suatu urusan yang lebih mulia bagi Allah daripada doa.” (HR. al-Hakim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah subhanah, maka Allah murka kepada dirinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita tabaraka wa ta’ala setiap malam yaitu pada sepertiga malam terakhir turun ke langit terendah dan berfirman, ‘Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang mau meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[3] Mohon ampunlah kepada-Nya Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Allah akan menyiksa mereka sementara kamu berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka sedangkan mereka selalu beristighfar/meminta ampunan.” (QS. al-Anfal: 33). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku setiap hari meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari).

Saudaraku,… perjalanan waktu menggiring kita semakin mendekati kematian… Oleh sebab itu marilah kita isi umur kita dengan dzikir, doa, dan taubat kepada-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dicintai-Nya, diampuni oleh-Nya, dan mendapatkan rahmat dari-Nya…

Sumber: Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel http://www.muslim.or.id

Prinsip agama

November 17, 2013

Seandainya Agama dengan Logika

Sebagian kalangan ada yang berprinsip, jika ada dalil yang bertentangan dengan logika, maka tetap logika yang lebih dikedepankan. Itulah sikap sebagian pengagung akal. Padahal agama Islam sejatinya bukan didasarkan pada logika, namun Islam itu manut dan ikut pada apa yang dikatakan dalil walau terasa bertentangan dengan logika.

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Kata Ash Shon’ani rahimahullah, “Tentu saja secara logika yang lebih pantas diusap adalah bagian bawah sepatu daripada atasnya karena bagian bawahlah yang langsung bersentuhan dengan tanah.” Namun kenyataan yang dipraktekkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah demikian. Lihat Subulus Salam, 1: 239.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Agama bukanlah dengan logika. Agama bukan didasari pertama kali dengan logika. Bahkan sebenarnya dalil yang mantap dibangun di atas otak yang cemerlang. Jika tidak, maka perlu dipahami bahwa dalil shahih sama sekali tidak bertentangan dengan logika yang smart (cemerlang).

Karena dalam Al Qur’an pun disebutkan,

أَفَلَا تَعْقِلُونَ “

Tidakkah kalian mau menggunakan akal kalian.” (QS. Al Baqarah: 44).

Yang menyelisihi tuntunan syari’at, itulah yang menyelisihi logika yang sehat. Makanya sampai ‘Ali mengatakan, seandainya agama dibangun di atas logika, maka tentu bagian bawah sepatu lebih pantas diusap. Namun agama tidak dibangun di atas logika-logikaan. Oleh karenanya, siapa saja yang membangun agamanya di atas logika piciknya pasti akan membuat kerusakan daripada mendatangkan kebaikan. Mereka belum tahu bahwa akhirnya hanya kerusakan yang timbul.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram, 1: 370).

Guru kami, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan hafizhohullah berkata, “Hadits ‘Ali dapat diambil kesimpulan bahwa agama bukanlah berdasarkan logika. Namun agama itu berdasarkan dalil. Sungguh Allah sangat bijak dalam menetapkan hukum dan tidaklah Dia mensyari’atkan kecuali ada hikmah di dalamnya.” (Tashilul Ilmam, 1: 170).

Syaikh Sholeh bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafizhohullah berkata, “Hendaklah setiap muslim tunduk pada hadits yang diucapkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah sampai seseorang mempertentangkan dalil dengan logika. Jika logika saja yang dipakai, maka tidak bisa jadi dalil. Ijtihad dengan logika adalah hasil kesimpulan dari memahami dalil Al Qur’an dan hadits.” (Syarh Kitab Ath Thoharoh min Bulughil Marom, hal. 249).

Beberapa pelajaran dari hadits di atas:

1.  Agama bukanlah dibangun di atas logika.

2.  Seandainya berseberangan antara akal dan dalil, maka wajib mengedepankan dalil. Namun sebenarnya sama sekali tidak          mungkin bertentangan antara dalil shahih dan akal yang baik.

3.  Sandaran hukum syar’i adalah pada dalil. Karean ‘Ali pun beralasan yang diusup adalah atas khuf (sepatu) dengan perbuatan      Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

4.  Jika memandang tekstual hadits, kedua kaki diusap berbarengan, yaitu tangan kanan mengusap kaki kanan dan tangan kiri mengusap kaki kiri.

5 .  Hadits ini merupakan bantahan pada Rafidhah (baca: Syi’ah) karena imam mereka sendiri yaitu ‘Ali bin Abi Tholib yang mereka anggap ma’shum berbeda keyakinan dengan mereka. Karena orang Syi’ah tidak meyakini adanya mengusap khuf (sepatu). Sedangkan ‘Ali meyakini adanya mengusap khuf bahkan meriwayatkan hadits tentang hal itu. Namun anehnya, orang Syi’ah menganggap tidak boleh mengusap khuf, tetapi dalam hal mencuci kaki saat berwudhu, mereka menganggap boleh hanya dengan mengusap kaki kosong. Sungguh aneh!

6.  Boleh berdalil dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

     Hanya Allah yang memberi taufik.

* Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 286-289.

* Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Marom, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan pertama, tahun 1425 H, 1: 370-374.

* Subulus Salam Al Muwshilah ila Bulughil Marom, Muhammad bin Isma’il Al Amir Ash Shon’ani, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan kedua, tahun 1432 H.

*Syarh Kitab Ath Thoharoh min Bulughil Marom, Syaikh Sholeh bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H, hal. 249.

* Tashil Al Ilmam bi Fiqhil Ahadits min Bulughil Marom, Syaikhuna (guru kami) Dr. Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1430 H

. — Selesai disusun tengah malam, Senin, 11 Dzulqo’dah 1434 H @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Assalamu’alaikum..sobat semua..

Maret 11, 2010

Selamat datang di dunia blog…..mari berbagi untuk tukar informasi..